Jakarta - Redenominasi mata uang rupiah dinilai penting, sebab rupiah masuk sebagai garbage money atau uang sampah. Rupiah kini tercatat masuk dalam 10 mata uang terendah terhadap dolar AS.
Demikian disampaikan oleh Pengamat Pasar Uang Farial Anwar kepada detikFinance, Kamis (5/8/2010).
"Mata uang kita ini (rupiah) di pasar internasional nilainya sangat memprihatinkan dan termasuk ke dalam garbage money. Rupiah merupakan 10 mata uang terburuk di dunia, kalau tidak salah kita masuk nomor 7," ujarnya.
Karena itu menurut Farial, Bank Indonesia (BI) ingin supaya nilai rupiah lebih meningkat di mata asing. Apalagi redenominasi ini diyakini Farial akan meningkatkan citra dan pamor mata uang Indonesia di dunia internasional.
Kemudian, lanjut Farial, dengan nominal rupiah yang sangat tinggi ini, Indonesia masuk ke dalam beberapa negara yang nilai APBN-nya hingga triliunan. "Padahal di negara-negara tetangga kita yang lain, APBN nilainya hanya miliaran atau bahkan jutaan," jelasnya.
Dikatakan Farial, banyak negara-negara lain yang sukses melakukan redenominasi seperti Turki. Dan BI bisa mempelajari proses redenominasi dari pengalaman negara-negara lain.
"Masyarakat tidak perlu takut akan redenominasi ini. Redenominasi ini berbeda dengan sanering di tahun 1965 yang kondisi ekonominya masih terbelakang. Saat ini ekonomi kita sudah maju. BI harus memberikan pendidikan atau edukasi yang terpadu kepada masyarakat mengenai rencana ini," tuturnya.
Seperti diketahui, BI akan melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.
BI akan mulai melakukan sosialisasi redenominasi hingga 2012 dan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru.
Kisah Turki yang Sukses 'Hilangkan' 6 Nol Mata Uangnya
Redenominasi atau penyederhanaan rupiah tanpa mengurangi nilainya sedang menjadi pembicaraan hangat. Banyak pro dan kontra yang muncul di masyarakat. Ada baiknya kita menyimak kisah-kisah redenominasi dari negara lain yang sukses, diantaranya adalah Turki.
Turki tercatat pernah sukses melakukan redenominasi dengan menghilangkan 6 angka nol pada mata uangnya. Jadi redenominasi yang dilakukan Turki adalah mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira pada tahun 2005.
Namun redenominasi yang dilakukan Turki ini berbeda dengan yang akan dilakukan Indonesia. Seperti dikutip dari situs bank sentral Turki, Kamis (5/8/2010), kebijakan redenominasi ini dilakukan untuk menekan laju inflasi Turki yang sangat tinggi sejak tahun 1970-an. Inflasi yang tinggi ini menyebabkan nilai ekonomi di negara belahan Eropa tersebut mencapai hitungan triliun, bahkan kuadriliun.
Sebagai dampak dari inflasi tinggi ini juga, setiap 2 tahun sekali sejak 1981, bank sentral Turki selalu menerbitkan mata uang kertas pecahan baru yang lebih besar. Bahkan ada mata uang yang mencapai 20 juta lira, atau merupakan mata uang dengan nominal terbesar di dunia. Hal ini pula yang menyebabkan kredibilitas mata uang Turki menurun.
Pecahan nominal yang besar ini menyulitkan maslah dalam sistem pencatatan akuntansi dan statistik di negara tersebut. Hal inilah yang menjadi latar belakang redenominasi dilakukan.
Bank sentral Turki memberlakukan redenominasi mulai 1 Januari 2005 dengan memberlakukan mata uang baru yaitu 'New Turkish Lira' (YTL), dan uang logamnya dengan satuan 'New Kurus' (YKr). Jadi 1 YTL sama dengan 100 YKr.
Masa transisi dari mata uang lama ke mata uang baru ini dilakukan selama 1 tahun. Dan dalam periode transisi tersebut, mata uang lama tetap berlaku dan ditarik perlahan-lahan hingga 2006. Jadi nilai 1 YTL sama dengan 1.000.000 lira (mata uang lama).
Proses transisi berjalan mulus. Masyarakat Turki juga tidak perlu perlu berebutan dan mengantre untuk menukarkan uangnya ke dalam mata uang baru, sebab uang lama tetap berlaku. Sehingga pertukaran antara mata uang lama dan baru dilakukan secara alami.
Proses redenominasi yang dilakukan secara perlahan ini sukses dilakukan serta tidak membuat nilai mata uang mereka bergejolak. Bahkan perkembangan suku bunga perbankan pun terlihat stabil dengan kebijakan redenominasi tersebut.
Dengan redenominasi yang diberlakukan, maka nilai nominal mata uang Turki yang baru adalah pecahan 1, 5, 10, 20, 50, dan 100 YTL. Sementara mata uang logamnya adalah 1, 5, 10, 20, 50 YKr, dan 1 YTL.
Redenominasi ini juga sukses menekan laju inflasi di negara tersebut. Pada 2008, laju inflasi Turki mencapai 10,1%, dan terus menurun sampai di bawah 10% pada tahun 2009. Padahal pada tahun 1981, inflasi di Turki pernah tembus 100%.
Demikian disampaikan oleh Pengamat Pasar Uang Farial Anwar kepada detikFinance, Kamis (5/8/2010).
"Mata uang kita ini (rupiah) di pasar internasional nilainya sangat memprihatinkan dan termasuk ke dalam garbage money. Rupiah merupakan 10 mata uang terburuk di dunia, kalau tidak salah kita masuk nomor 7," ujarnya.
Karena itu menurut Farial, Bank Indonesia (BI) ingin supaya nilai rupiah lebih meningkat di mata asing. Apalagi redenominasi ini diyakini Farial akan meningkatkan citra dan pamor mata uang Indonesia di dunia internasional.
Kemudian, lanjut Farial, dengan nominal rupiah yang sangat tinggi ini, Indonesia masuk ke dalam beberapa negara yang nilai APBN-nya hingga triliunan. "Padahal di negara-negara tetangga kita yang lain, APBN nilainya hanya miliaran atau bahkan jutaan," jelasnya.
Dikatakan Farial, banyak negara-negara lain yang sukses melakukan redenominasi seperti Turki. Dan BI bisa mempelajari proses redenominasi dari pengalaman negara-negara lain.
"Masyarakat tidak perlu takut akan redenominasi ini. Redenominasi ini berbeda dengan sanering di tahun 1965 yang kondisi ekonominya masih terbelakang. Saat ini ekonomi kita sudah maju. BI harus memberikan pendidikan atau edukasi yang terpadu kepada masyarakat mengenai rencana ini," tuturnya.
Seperti diketahui, BI akan melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.
BI akan mulai melakukan sosialisasi redenominasi hingga 2012 dan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru.
Kisah Turki yang Sukses 'Hilangkan' 6 Nol Mata Uangnya
Redenominasi atau penyederhanaan rupiah tanpa mengurangi nilainya sedang menjadi pembicaraan hangat. Banyak pro dan kontra yang muncul di masyarakat. Ada baiknya kita menyimak kisah-kisah redenominasi dari negara lain yang sukses, diantaranya adalah Turki.
Turki tercatat pernah sukses melakukan redenominasi dengan menghilangkan 6 angka nol pada mata uangnya. Jadi redenominasi yang dilakukan Turki adalah mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira pada tahun 2005.
Namun redenominasi yang dilakukan Turki ini berbeda dengan yang akan dilakukan Indonesia. Seperti dikutip dari situs bank sentral Turki, Kamis (5/8/2010), kebijakan redenominasi ini dilakukan untuk menekan laju inflasi Turki yang sangat tinggi sejak tahun 1970-an. Inflasi yang tinggi ini menyebabkan nilai ekonomi di negara belahan Eropa tersebut mencapai hitungan triliun, bahkan kuadriliun.
Sebagai dampak dari inflasi tinggi ini juga, setiap 2 tahun sekali sejak 1981, bank sentral Turki selalu menerbitkan mata uang kertas pecahan baru yang lebih besar. Bahkan ada mata uang yang mencapai 20 juta lira, atau merupakan mata uang dengan nominal terbesar di dunia. Hal ini pula yang menyebabkan kredibilitas mata uang Turki menurun.
Pecahan nominal yang besar ini menyulitkan maslah dalam sistem pencatatan akuntansi dan statistik di negara tersebut. Hal inilah yang menjadi latar belakang redenominasi dilakukan.
Bank sentral Turki memberlakukan redenominasi mulai 1 Januari 2005 dengan memberlakukan mata uang baru yaitu 'New Turkish Lira' (YTL), dan uang logamnya dengan satuan 'New Kurus' (YKr). Jadi 1 YTL sama dengan 100 YKr.
Masa transisi dari mata uang lama ke mata uang baru ini dilakukan selama 1 tahun. Dan dalam periode transisi tersebut, mata uang lama tetap berlaku dan ditarik perlahan-lahan hingga 2006. Jadi nilai 1 YTL sama dengan 1.000.000 lira (mata uang lama).
Proses transisi berjalan mulus. Masyarakat Turki juga tidak perlu perlu berebutan dan mengantre untuk menukarkan uangnya ke dalam mata uang baru, sebab uang lama tetap berlaku. Sehingga pertukaran antara mata uang lama dan baru dilakukan secara alami.
Proses redenominasi yang dilakukan secara perlahan ini sukses dilakukan serta tidak membuat nilai mata uang mereka bergejolak. Bahkan perkembangan suku bunga perbankan pun terlihat stabil dengan kebijakan redenominasi tersebut.
Dengan redenominasi yang diberlakukan, maka nilai nominal mata uang Turki yang baru adalah pecahan 1, 5, 10, 20, 50, dan 100 YTL. Sementara mata uang logamnya adalah 1, 5, 10, 20, 50 YKr, dan 1 YTL.
Redenominasi ini juga sukses menekan laju inflasi di negara tersebut. Pada 2008, laju inflasi Turki mencapai 10,1%, dan terus menurun sampai di bawah 10% pada tahun 2009. Padahal pada tahun 1981, inflasi di Turki pernah tembus 100%.

hilangin nol nya a uda 3 aja kita uda cukup...
BalasHapusgue dukung deh BI meredenominasi...